Penulis: Wiko |
Sidoarjo, pelitaprabu.com |
Terlepas dari pro kontra dan motif tujuan, sosok Sujani, S.Sos atau biasa disapa “Bupati Swasta” telah memberi warna baru dalam sejarah Sidoarjo.
Awak media pelitaprabu.com berkesempatan bertemu dengan sosok admin grup WhatsApp RPS (Ruang Publik Sidoarjo) ini. Ia merupakan pendiri grup yang dikenal menjadi medium pengawas bagi dinamika sosial politik Sidoarjo. Berikut petikan wawancaranya dapat disimpulkan.
Bagi Sujani, saat ini, boleh dikata, dinamika sosial-politik Sidoarjo hari ini lebih “senyap” dari era Bupati sebelumnya. Masyarakat terkesan tenang bukan karena sejahtera, tetapi lebih karena dibayangi pesimisme.
Masih menurut Sujani yang kerap kali berkopyah hitam ini, bahwa hampir sebagian besar kubu gerakan politik dan tokoh elit parpol yang menjadi simpul jaringan, semua sudah merapat pada penguasa, Kalaupun ada riak, itu hanya muncul sesaat habis itu layu.
Sujani yang juga akrab dipanggil Cak Jani hadir dengan segala kontroversinya, mencoba mengisi peran fungsi pengawasan.
“Selaras dengan perkembangan teknologi digital, gerakan “oposisi” ini bergeser ke platform media sosial,” urainya lugas.
Baginya narasi “oposisi’ di media sosial masih banyak kelemahan, ibarat menulis di atas air, cepat ditulisnya, cepat pula dilupakannya.
Ia juga tidak mempermasalahkan perihal ini,
“Ini hanyalah masalah pilihan untuk bersikap. Tapi apapun itu, kelak masyarakat Sidoarjo akan mencatat fenomena ini,” beber Sujani dengan senyum khasnya.
Pria berjuluk “Bupati Swasta” ini berharap bisa panjang umur, istiqomah dan selalu bisa menjaga integritas
Ia bersikukuh dapat tetap bergerak untuk kebaikan negeri ini terutama untuk masa depan Sidoarjo yang tiga kali pemimpin daerahnya ditimpa musibah OTT KPK.
“Bukan karena barisan sakit hati
Bukan pula karena tidak dapat posisi atau hanya sekedar urusan periuk nasi,” selorohnya menutup pembicaraan.***
