Penulis : Rio Adhit |
Bondowoso, pelitaprabu.com |
Siapa sangka, hasil observasi yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 223 UIN Sunan Ampel Surabaya di Desa Jati Tamban, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, justru menemukan potensi UMKM yang lebih besar dari data awal pemerintah desa. Berdasarkan hasil diskusi bersama perangkat desa, tercatat sebanyak 14 UMKM yang bergerak di berbagai sektor usaha, seperti produksi tape, keripik singkong, keripik pisang, anyaman besek bambu, hingga tembakau.
Namun, setelah melakukan observasi langsung ke seluruh dusun, para mahasiswa menemukan 18 UMKM aktif yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Temuan tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa peserta KKN untuk memperbarui data UMKM sekaligus mengidentifikasi berbagai potensi yang dapat dijadikan program kerja pengabdian kepada masyarakat.
Dari hasil pendataan tersebut, para mahasiswa menyimpulkan bahwa sebagian besar pelaku usaha memiliki kualitas produk yang baik, bahkan telah dipasarkan hingga ke luar Kabupaten Bondowoso, termasuk ke Pulau Bali. Meski demikian, masih banyak UMKM yang belum memiliki identitas usaha dan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pemasaran maupun pelayanan kepada konsumen.
Panjalu salah satu mahasiswa KKN Kelompok 223 dari Prodi KPI FDK UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa Program Digitalisasi dan Branding UMKM Desa Jati Tamban sebagai upaya meningkatkan daya saing usaha lokal.
“Pendampingan dilakukan melalui berbagai inovasi, di antaranya pembuatan titik lokasi usaha pada Google Maps, desain banner produk, redesain logo dan identitas produk, pembuatan QRIS sebagai metode pembayaran digital, serta pengelolaan media sosial sebagai media promosi,” ulasnya bersemangat.
Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan transaksi digital di kalangan konsumen. Beberapa pelaku UMKM mengaku memiliki pelanggan dari luar daerah yang lebih memilih menggunakan pembayaran non-tunai melalui QRIS. Selain itu, jangkauan pemasaran produk yang telah menembus berbagai daerah, termasuk Bali, menunjukkan bahwa UMKM Desa Jati Tamban memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung dengan branding yang kuat dan identitas digital yang profesional.
Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa berharap UMKM Desa Jati Tamban tidak hanya dikenal melalui kualitas produknya, tetapi juga memiliki identitas usaha yang lebih profesional, mudah ditemukan oleh calon pelanggan melalui Google Maps, aktif memanfaatkan media sosial, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital.
“Digitalisasi tidak hanya menjadi inovasi sesaat selama pelaksanaan KKN, melainkan menjadi langkah awal menuju UMKM desa yang lebih mandiri, modern, dan berdaya saing,” tutupnya.***
