Penulis : Tias Satrio Adhitama |
Surabaya, pelitaprabu. com |
Kembali klaim Donald Trump mengenai negosiasi pembicaraan produktif dengan Iran terkait penyelesaian konflik. Namun Kementerian Luar Negeri Iran membantah telah terjadi perundingan antara Iran dan AS.
Sebelumnya, pada 21 Maret lalu, Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam. Jika Iran tidak patuh, kata Trump, Washington akan “menghancurkan” berbagai pembangkit listrik Iran. Respon Iran mengenai ancaman ini, bahwa Iran akan mengambil langkah balasan jika fasilitas energi negara itu diserang. Seperti kata Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, Ahad (22/03/2026), di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” kata Zolfaghari, seperti dikutip kantor berita Fars.
Sebagian besar pakar menilai gertakan Trump tidak mungkin terjadi. Sebab kendali total Iran atas Selat Hormuz menjadi pegangan penting dalam perang ini. Makanya kemudian muncul ejekan dari petinggi militer Iran untuk Trump, “you are fired,”.
Kembali mengenai kabar adanya negosiasi Trump, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan yang mengatakan:
“Kami membantah apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya negosiasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran.”
Dikutip oleh CBS News, mitra BBC di AS, Kementerian Luar Negeri Iran menambahkan:
“Republik Islam Iran berpegang pada posisinya yang menolak segala jenis negosiasi sebelum tercapainya tujuan Iran dari perang.”
Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC di Gedung Putih, Bernd Debusmann Jr.
“Walau Trump menyebut adanya pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Iran, hal itu belum dikonfirmasi oleh pihak Iran,” jelasnya
Banyak negara di dunia menantikan babak baru terkait situasi konflik di Timur Tengah. Belum ada tanda-tanda ketegangan akan menjadi reda. Adanya pembicaraan AS-Iran dan langkah selanjutnya dirasa pesimis, mengingat Iran tidak membuka pintu negosiasi karena selama ini merasa dibohongi.***
